GEGAR BUDAYA PDF

PERAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MENGATASI GEGAR BUDAYA MAHASISWA ASING UNS (Studi Deskriptif Kualitatif Peran Komunikasi. Dalam bidang budaya, kita mengenal juga istilah gegar budaya (culture schock). Gegar budaya adalah guncangan perasaaan (kecemasan) akibat masuknya. Budaya saya yang baru. Nah, begitu saya pulang, saya justru mengalami gegar budaya. Saya bukan mengalami shock culture ketika tiba di.

Author: Shagis Kizil
Country: Guinea-Bissau
Language: English (Spanish)
Genre: Politics
Published (Last): 27 October 2010
Pages: 89
PDF File Size: 15.56 Mb
ePub File Size: 19.71 Mb
ISBN: 374-4-67518-207-8
Downloads: 55499
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Shaktizil

Saat itu saya mau masuk pintu di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Pintu saya buka dan saya tahan, menunggu orang di belakang saya mau masuk dan memegang pintu untuk orang di belakangnya. Tapi apa yang terjadi? Orang-orang di belakang saya masuk begitu saja, terus-menerus dan saya seperti penjaga pintu mall.

E-Societas

Saya pun tertawa sendiri. Antara lucu dan sedikit ironis.

Saya lupa, bahwa menahan pintu untuk orang di belakang itu belum menjadi budaya di Indonesia. Hanya segelintir orang yang melakukannya. Padahal saat saya tinggal di Washington, DC, memegang pintu untuk orang di belakang itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

Itulah salah satu contoh perubahan positif yang saya dapat dari hidup 12 bulan di Amerika. Jujur, saat saya masih belum berangkat ke Amerika, pandangan saya tentang Amerika banyak yang buruk.

Apalagi setiap harinya saya dijejali berita miring mengenai Amerika dan orang-orangnya. I judge without knowing the truth, like many Indonesian people do. Bad habit, bad culture. Saya berangkat dengan pola pikir bentukan media massa.

Terlebih lagi, saya bekerja di media. Lengkaplah judmental saya terhadap Americans. But I now believe, when we try to see the good, we will see the good. But when we tend to see the bad, then we will just seing the bad.

  EOT CRANE WORKING PRINCIPLE PDF

Jadi tolong jangan melihat artikel ini dan menilai saya membangga-banggan Amerika. Karena bagi saya, Amerika juga punya sisi gegr yang membuat saya jauh gegae negara gegwr sendiri, Indonesia. Saya cuma ingin menjadikan sisi positif dari Amerika sebagai pelajaran. Setelah saya menjadi penghuni Amerika, saya menemukan kebiasaan baik yang jarang saya temukan di Indonesia.

Setiap pagi ketika memasuki lift kantor, hampir semua orang saling menyapa. Bahkan orang yang tidak kenal sekalipun. Terkadang geggar dengan sedikit perbincangan jika kita mengenal orang tersebut. Meskipun cuma basa-basi, tapi adat ini sangatlah positif untuk diterapkan di Indonesia.

Budaya tertib lainnya adalah saat mengantri.

Gegar Budaya | Tulisan Krisnanda

Wahsaya takjub mereka benar-benar taat pada norma. Selama setahun tinggal di sana, belum pernah saya menemukan ada orang memotong antrian.

Tapi baru saja saya tiba di bandara Hongkong, saat hudaya masuk ke pesawat menuju ke Indonesia, saya sudah menemukan budaya serabat serobot. Saat itu antrian sudah panjang. Saya berada di tengah-tengah antrian. Di belakang saya ada orang-orang bulesementara sekitar 5 orang di depan saya ada orang Indonesia. Tiba-tiba sekelompok orang Indonesia lari sambil tertawa, dan menemukan satu orang temannya sudah mengantri.

Sekitar 7 orang Gegr tersebut, tanpa merasa malu langsung masuk antrian sambil tertawa bangga. Di DC, tempat saya tinggal, semua orang membersihkan meja makannya sendiri di restoran cepat saji atau di food court.

Bukan Culture Shock, Melainkan, Reverse Culture Shock

Kertas atau sterofoam bekas membungkus getar dan sisa makanan, langsung diangkut sendiri dan dibuang ke tempat sampah. Sementara nampannya, akan diletakkan di tempat yang telah disediakan. Suatu hari setelah beberapa bulan pulang ke Jakarta, saya makan di restoran cepat saji bersama dua orang teman.

  DRAKAR OCH DEMONER CHRONOPIA PDF

Setelah selesai, saya membuang sampah sisa makanan dan meletakkan nampan di meja sebelahnya. Ntar juga ada yang bersihin. Budaya serta adat lainnya yang bisa dicontoh, adalah saat sedang naik eskalator.

Oalah, jadi orang di luar itu, meskipun ada eskalator, tetap suka jalan. Jadi yang mau diam di tempat, minggir ke sisi kanan. Sisi kiri diperuntukkan bagi mereka yang tetap mau berjalan.

Saat kebiasaan seperti itu saya lakukan berulang-ulang setiap hari selama satu tahun, maka akan menjadi sebuah budaya. Budaya saya yang baru. Nah, begitu saya pulang, saya justru mengalami gegar budaya. Saya bukan mengalami shock culture ketika tiba di Amerika, tapi justru saat saya pulang ke Indonesia.

Jadi, jika nanti ada kesempatan untuk tinggal di luar negeri dan kembali ke Indonesia, mari kita terapkan budaya yang baik yang kita dapati dari negara lain. Keseharian Kuliah di Jepang. Being a Minority in a Japanese Campus: Experience and Lesson Learned. No shock on the culture. Managing Money, Managing Life. Close Welcome to Indonesia Mengglobal! Ikuti Indonesia Mengglobal di Facebook, Twitter dan mailing list kami untuk mendapatkan info terbaru tentang aplikasi dan beasiswa sekolah di luar negeri.